Kamis, 03 Maret 2011

INDONESIA... NEGARA AGRARIS ATAU BAHARI ?

Kita semua pasti sudah paham, kalau sekitar dua dari tiga luas Indonesia adalah perairan. Berada pada iklim tropis, pertemuan dua lempeng besar, dan pergerakan arus laut yang melewati Indonesia, menjadi tidak ada keraguan bahwa berjuta potensi sumber daya dan keindahan terdapat di dalamnya. 

Hanya mereka yang kesehariannya bergelut dengan kelautan saja yang memahami kondisi di atas. Orang awam hanya pernah mendengar berita banyak kapal tenggelam, gelombang tinggi atau ikan yang dicuri nelayan asing. Indonesia memiliki laut yang luas. Kebanyakan orang hanya mengetahui sebatas kalimat tersebut. Di lain sisi, laut pun belum mampu untuk memberikan sumbangsih yang cukup berarti bagi persoalan bangsa Indonesia ini.

Jika kita di bolehkan mengintip ke belakang dengan bijak, tentunya kita tidak lupa dengan kalimat yang mengatakan bahwa "Indonesia Adalah Negara Agraris". Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar pun, saya sudah diberitakan tentang Indonesia yang Agraris. Mengapa disebut demikian, saya pikir banyak alasannya. Dulu mayoritas penduduk Indonesia adalah bekerja sebagai petani. Sebagian besar tata guna lahan pun dijadikan untuk pertanian atau perkebunan. Hebatnya lagi, swasembada beras pun pernah dicapai bangsa ini puluhan tahun silam.

Ternyata dibalik kehebatan itu terdapat kenyataan yang cukup menyakitkan. Program revolusi hijau yang digalakkan pemerintah kala itu mengabaikan ketimpangan kepemilikan dan penguasaan lahan pertanian. Banyak kebijakan pemerintah yang tidak pro pada sektor pertanian, salah satunya dengan mengkonversi lahan pertanian menjadi daerah industri, pelebaran jalan, pembuatan perumahan dan real estate, lapangan golf, pembangunan DAM, serta sektor non pertanian lainnya.

Sementara saat ini, Indonesia tidak lagi mampu berswasembada beras, petani pun merana terkena imbas dari mahalnya pupuk. Ironisnya, pemerintah lebih memilih impor karena harga yang lebih murah. Harga kebutuhan pokok berbasis pertanian sudah didikte oleh dunia Internasional, ketika harga kedelai dunia naik, Indonesia pun tak mampu menahan kenaikan harga di dalam negeri. Lepas dari itu semua, ternyata kelaparan dan kekurangan gizi merebak dipelosok Indonesia ini. Lalu, masih pantaskah Indonesia dikatakan sebagai Negara Agraris ?

Kembali ke persoalan laut di Indonesia. Walaupun banyak yang belum mengetahui begitu besarnya potensi laut yang ada, tidak bisa dipungkiri potensi itu memang ada. Dari bibir pantai hingga laut yang paling dalam sekalipun banyak potensi yang dapat dikeruk. Bahkan dengan ikan saja sebenarnya Indonesia mampu hidup, bermodalkan gas dan batubara dari laut saja Indonesia tidak perlu berhutang lagi. Namun kenyatannya, laut kita memang belum terasa kiprahnya.

Dalam beberapa hal, potensi kelautan memang lebih besar dibanding pertanian Indonesia. Tidak hanya karena luas, tapi juga keanekaragaman potensinya. Saat ini kelautan Indonesia belum terlihat taringnya, tapi mereka sudah mulai dan sedang unjuk gigi. Satu hal yang saya rasakan adalah semangat dan mimpi-mimpi dari kawan - kawan akan kejayaan laut Indonesia akan datang.

Dari sini saya berpikir sah-sah saja jika kita menyebut "Indonesia Sebagai Negara Bahari". Toh, sebelumnya kita juga sering mendengar bahwa "nenek moyangku seorang pelaut". Dengan slogan sekali layar terkembang pantang pulang sebelum mendapatkan keuntungan. Bahkan civitas kelautan yang pernah mendidik saya pun sudah menanamkan pada diri ini bahwa Indonesia adalah negeri bahari. 

Lantas bagaimana dengan Agraris?
Tidaklah saya berani mengatakan Indonesia bukan Negara Agraris lagi.
Kecuali jika saya kemarin mahasiswa di bidang pertanian, akan saya katakan bahwa Indonesia masih Agraris. He he hee 

(Dedicated to all my Hang Tuah seafarer around the world)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar